Majalah Dekade, Volume 1, November 2024
SEPENGGAL CATATAN TENTANG HAJI RAIS BIN ABDOERRACHMAN

majalahdekade.tomsbook.co.id. Jum’at, 30 Oktober 2015, cuaca begitu panas. Setelah perjalanan jauh, entah mengapa motor yang ku kendarai ku belokkan ke arah jalan Tanjung Raya 2. Hingga berhenti pada sebuah Masjid di tepian sungai Kapuas, bernama Masjid Jami’ Baiturrahim di kawasan Kelurahan Parit Mayor. Saat itu ku lihat waktu masih sekitar satu jam sebelum Sholat Jum’at.
Di Masjid itu pun aku beristirahat, sembari melepas lelah dan menghilangkan hawa panas yang cukup menyengat, hingga masuk waktu Sholat Jum’at. Selepas Sholat Jum’at, aku tidak langsung beranjak, aku beristirahat di teras Masjid menunggu waktu agak sore hingga cuaca panas berkurang.
Ketika sedang beristirahat sambil menikmati pemandangan sungai Kapuas, aku berkenalan dengan seorang Bapak tua yang mengenalkan dirinya bernama Anjang. Kami pun berbincang-bincang cukup lama.
Hingga ketika ia mendengar jika aku adalah seorang penulis, Pak Anjang pun membuka pembicaraan tentang seorang Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Kalimantan Barat bernama Haji Rais Bin Abdoerrachman. Pembicaraan kami semakin akrab, dan aku menjadi tertarik dengan pembicaraan Pak Anjang itu tentang Haji Rais Bin Abdoerrachman, karena ku rasakan Pak Anjang begitu mengenal sosok Haji Rais Bin Abdoerrachman ini.
Hingga kemudian ia mengajakku ke tempat tinggalnya, dan diperkenalkan dengan seorang wanita yang sudah begitu tua, bernama Latifah. Setelah berkenalan dengan Ibu itu, baru lah aku tahu, jika Ibu Latifah ini adalah anaknya Haji Rais Bin Abdoerrachman. Dari sini aku dibawa menemui beberapa kerabatnya, hingga tertulislah sepenggal catatan tentang Haji Rais Bin Haji Abdoerrachman.
Haji Rais lahir pada tahun 1904 di kampung Parit Mayor yang sebagian besar penduduknya berasal dari suku Banjar. Ayah Haji Rais bernama Haji Abdoerrachman dan ibunya bernama Kesum. Haji Abdoerrachman, merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua saudaranya yang lain bernama Haji Dullah dan Haji Wakap.
Haji Rais merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Empat saudaranya yang lain adalah:
- Japri, mempunyai anak bernama Man dan Karim.
- Asiah, mempunyai anak bernama Japar.
- Saimah, mempunyai anak bernama Said, Arsyad, dan Majid.
- Salmah.
“Hobby Haji Rais adalah bermain bola”
Orang tua dan lingkungan kerabat Haji Rais merupakan keluarga Muslim yang taat. Ajaran Islam menjadi panutan dalam kehidupannya. Hal ini lah yang menjadikan beberapa keluarga besarnya ini telah menunaikan ibadah haji seperti paman dan ayahnya. Orang tua Haji Rais termasuk keluarga yag berkecukupan. Sejak kecil ia senang bermain bola. Ketika remaja Haji Rais termasuk dalam golongan intelektual berpendidikan Barat di sekolah Belanda sampai tamat kelas VI di Pontianak. Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Pontianak, pada tahun 1920 Haji Rais pergi ke Jakarta untuk menempuh pendidikan, juga menemui Gusti Sulung Lelanang yang sedang bersekolah di sana, dan ia juga bertemu Ya’ Moehammad Sabran.
Gusti Sulung Lelanang pada masa itu bersekolah di Normalschool (Sekolah Guru) di Jatinegara (Batavia). Selama bersekolah ini, Gusti Sulung Lelanang belajar tentang politik secara langsung kepada Alimin dan Tan Malaka. Kedua orang ini disebut-sebut sebagai inspirasinya sehingga saat ia kembali ke Kalimantan Barat, ia mendirikan Sarekat Rakyat (SR) pada 1924.
Sedangkan Ya’ Moehammad Sabran berada di Jakarta sejak tahun 1914. Ia dikirm oleh orang tuanya Ya’ M. Ali bin Kimas Tanjung ke KW 3 (Khonning William) di Jakarta sebagai calon guru. Hingga kemudian pada tahun 1918 beliau diangkat sebagai guru di salah satu sekolah.
Ya’ Moehammad Sabran beserta beberapa teman lainnya kemudian mendirikan sekolah di Gang Kenari di Jakarta. Karena kecerdasannya, dan ketaatan agamanya hingga kemudian Ya’ Moehammad Sabran dinikahkan dengan anak dari Husni Thamrin, Hayani dan Gusti Sulung Lelalang juga dinikahkan dengan adiknya Hayani yaitu Hayati.
Selama di Jakarta, Haji Rais dan Gusti Sulung Lelanang yang sedianya akan menuntut ilmu, tetapi situasi di Jakarta dan beberapa daerah di Nusantara sedang terjadi pergolakan menuntut kemerdekaan dari Hindia Belanda, membuat keduanya bersama beberapa teman lainnya, lebih tertarik pada perjuangan membebaskan tanah airnya dari belenggu penjajahan Hindia Belanda. Pergolakan di Nusantara mulai terjadi ketika mulai terjadinya Perang Dunia I yang dalam istilah-istilah dalam bahasa Inggris lainnya, “Great War”, “War of the Nations”, dan “War to End All Wars” atau Perang untuk Mengakhiri Semua Perang. Perang Dunia I adalah sebuah konflik dunia, perang global yang terpusat di Eropa, berlangsung dari 28 Juli 1914 hingga 11 November 1918, yang berawal dari kemelut di Semenanjung Balkan. Perang Besar ini melibatkan semua kekuatan besar dunia, yang terbagi menjadi dua aliansi bertentangan.
Kekuatan besar dunia itu yaitu Sekutu yang berdasarkan Entente Tiga yang terdiri dari Britania Raya, Perancis, dan Rusia, serta Kekuatan Sentral yang terpusat pada Aliansi Tiga yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia.
“Selama di Jakarta, Haji Rais dan Gusti Sulung Lelanang mulai tertarik melakukan perjuangan membebaskan tanah airnya”
Namun, saat Austria-Hongaria melakukan serangan sementara persekutuan ini bersifat defensif, Italia tidak ikut berperang. Kedua aliansi ini melakukan reorganisasi, dan Italia pada saat itu berada di pihak Sekutu, dengan memperluas diri saat banyak negara ikut serta dalam perang. Lebih dari 70 juta tentara militer, termasuk 60 juta orang Eropa, dimobilisasi dalam salah satu perang terbesar dalam sejarah ini. Lebih dari 9 juta prajurit gugur, terutama akibat kemajuan teknologi yang meningkatkan tingkat mematikannya suatu senjata tanpa mempertimbangkan perbaikan perlindungan atau mobilitas. Perang Dunia I adalah konflik paling menakutkan dan mematikan keenam dalam sejarah dunia, sehingga hal ini menjadi pembuka jalan untuk berbagai perubahan politik, seperti revolusi di beberapa negara yang terlibat. Dan penyebab jangka panjang perang ini mencakup kebijakan luar negeri imperialis kekuatan besar Eropa, termasuk Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Rusia, Imperium Britania, Republik Perancis, dan Italia.
Sementara itu di Nusantara, pada masa ini, perjuangan menuntut kemerdekaan, tidak memaksa perjuangan dengan mengangkat senjata, tetapi menyusun persatuan bangsa dengan membangkitkan gerakan kesadaran menuntut kemerdekaan. Karena perlawanan fisik, yaitu mengangkat senjata, pada akhirnya mengalami kekalahan.
Hal ini disebabkan kurangnya persenjataan dan tidak adanya kaderisasi dalam kepemimpinan. Kemudian, perlawanan dilakukan secara nonfisik pada masa pergerakan nasional yang mulai dilengkapi dengan majunya pendidikan Barat yang bisa menumbuhkan pemikiran dan kesadaran rakyat, bahwa perlawanan tidak harus dengan fisik atau mengangkat senjata, tetapi dengan otak atau ide.
Dengan demikian, hampir di seluruh negeri mulai melancarkan perlawanan nonfisik dengan membentuk organisasi maupun menerbitkan surat kabar atau pers sebagai corong dalam menyampaikan pemikiran yang dapat menumbuhkan kesadaran dan mengubah kehidupan rakyat. Haji Rais dan Gusti Sulung Lelanang, mulai gencar mengkampanyekan tentang pentingnya kemerdekaan pada sesama teman-temannya dari Kalimantan Barat. Mereka mulai membuat perkumpulan kecil membahas dan berdiskusi tentang pembebasan bangsa dan negaranya, terutama di Kalimantan Barat dari cengkeraman Hindia Belanda.
Pergolakan Perang Dunia I, ikut mempengaruhi kekuasaan Hindia Belanda di Nusantara, yang mulai merosot. Dalam situasi yang sama, Pontianak pun sedang mengalami proses perubahan untuk menentukan arah baru dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh kaum intelektual (terdidik) dengan membawa ide-ide pembaharuan.
“Perang Dunia I yang dimulai tanggal 28 Juli 1914, sebagai tonggak awal perjuangan Haji Rais dan Gusti Sulung Lelanang dalam mengkampanyekan kemerdekaan pada sesama teman-temannya dari Kalimantan Barat”
Pembaharuan yang terjadi pada masa ini adalah munculnya ide-ide tentang organisasi atau perkumpulan. Maka mulailah berdirinya Sarekat Islam (SI) dan Sarekat Rakyat (SR) di Kalimantan Barat, yang pada masa itu dimulai di Kota Ngabang. Dimana Haji Rais ikut bergabung didalam organisasinya. Dua organisasi besar ini mempunyai peranan penting dalam perjuangan Haji Rais. Munculnya dua organisasi ini akibat kondisi sosial politik yang terjadi di Jawa. Kedekatan hubungan dagang antara Kota Ngabang dan pedagang di Surabaya telah mendorong terbentuknya SI di daerah Ngabang.
Untuk pertama kalinya pada tahun 1914, SI yang dipimpin oleh Tjokroaminoto ini membuka cabangnya di Ngabang. Asas dan haluan SI untuk memajukan perdagangan, memberikan pertolongan kepada anggotanya, memajukan kepentingan rohani dan jasmani, serta memajukan kehidupan Islam sangat selaras dengan gerakan tokoh elite lokal sehingga SI berkembang pesat di Kalimantan Barat. Dalam waktu beberapa tahun SI yang digawangi oleh Ibrahim bin Haji Rahmad, sekretaris Haji Umar, bendahara Haji Nasri, dan komisaris Haji Abdul Kadir, Haji Yusuf, Haji Amin, dan Mohammad Hambal, Mohammad Hambal atau Bung Tambal ini yang disebut-sebut sebagai salah seorang penggagas konsep negara Indonesia, dapat meluaskan jaringannya ke daerah-daerah, termasuk Kota Pontianak. Cabang SI Pontianak merekrut anggotanya dari kalangan terpelajar, ulama, guru agama, dan para pedagang Islam. Keanggotaan SI banyak dari masyarakat yang beragama Islam karena dasar idiologinya adalah Islam.
Seiring dengan pergolakan-pergolakan yang terjadi di daerah ini. SI menjelma sebagai satu kekuatan untuk melawan kekuatan Pemerintah Belanda. Perkembangan ini tentu saja sangat mengkhawatirkan pemerintah Belanda sehingga melakukan pelarangan terhadap pergerakan SI. Walaupun sebenarnya Belanda sendiri telah mengakui SI melalui Gubernur Jenderal Idenburg pada tahun 1913. Meskipun SI tidak diakui sebagai organisasi nasional yang dikendalikan oleh CSI, tetapi hanya sebagai kumpulan cabang-cabang yang otonom.
Sebenarnya, ini suatu strategi Belanda agar tidak ada konsentrasi massa yang dapat membahayakan kekuasaannya. Strategi lain Belanda untuk membatasi perkembangan SI adalah melarang dan membatasi kegiatan-kegiatan SI, termasuk melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah.
Haji Rais dan para tokoh pergerakan merasa kecewa karena para pemimpin SI tidak melakukan perlawanan dengan pelarangan oleh pemerintah Belanda. Ditambah lagi, pelarangan itu berdampak pada mengendornya semangat pemimpin SI untuk melakukan kegiatan. Haji Rais bersama dengan para tokoh muda lainnya melakukan gerakan pembelotan. Gerakan ini juga dipicu oleh konflik yang terjadi diantara para pemimpin SI yang ada di Jawa sehingga menyebabkan terjadinya perpecahan kepemimpinan dalam organisasi SI menjadi beberapa kelompok. Hal tersebut bermula ketika beberapa negara besar telah menyatakan dukungannya bagi terciptanya kemerdekaan di tanah air Nusantara.
“Mohammad Hambal atau Bung Tambal, disebut-sebut sebagai salah seorang penggagas konsep Negara Indonesia”
Beberapa negara besar itu antara lain, Kekaisaran Rusia, Eropa, Imperium Britania dan Kesultanan Utsmaniyah. Namun ada beberapa pemimpin SI yang memilih untuk tetap dibawah naungan Hindia Belanda. Tentang negara-negara besar yang akan diikuti ini lah sebagai pangkal utama perpecahan itu. Namun sebagian besar pada masa itu cenderung untuk mengikuti Kekaisaran Rusia, yang pada masa itu telah mempersiapkan berbagai bantuan, berupa materil dan keamanan untuk mewujudkan kemerdekaan di tanah air Nusantara.
Karena telah cenderung pada tawaran dukungan kemerdekaan dari Kekaisaran Rusia, maka mulai masuk lah pengaruh sosialis yang dipropandakan oleh Sneevliet, yang pada masa itu menarik perhatian Semaun, seorang pemuda Jawa buruh kereta api yang aktif dalam organisasi Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP). Semaun berhasil mengembangkan SI cabang Semarang dengan mengambil sikap tegas menentang kapitalis, menolak keikutsertaan SI dalam keanggotaan Volksraad. Sementara itu, Tjokroaminoto tetap memegang SI dengan haluannya dan di sisi lain berkembang Sarekat Islam B yang dipimpin oleh Sosrokardono dari CSI. Sikap SI berhaluan kiri (komunis) yang dipimpin oleh Semaun, lebih banyak mendapat dukungan pada Kongres SI tahun 1917, dan juga cabang-cabang SI yang ada di luar Jawa. Semua perpecahan dalam tubuh SI bermuara pada persaingan untuk memperoleh massa dan kekuasaan. Propaganda yang dilakukan oleh Semaun, Haji Misbach, dan tokoh-tokoh SI sangat menginspirasi para tokoh muda SI di Kalimantan Barat.
Propaganda Haji Misbach telah menjadikannya terkenal sebagai Islam Merah. Dengan adanya propaganda tersebut Haji Rais, Gusti Sulung Lelanang, Ahmad Sood, Gusti Situt Mahmud, Gusti Johan Idrus, dan beberapa tokoh lain memisahkan diri dan membentuk kelompok lain yaitu Sarekat Rakyat pada tahun 1924. Berdiriya Sarekat Rakyat setelah melalui suatu pemikiran yang matang. Hal ini karena melihat kondisi rakyat dengan perbedaan yang sangat mencolok antara petani, pekerja perkebunan dengan pemilik tanah dan kebun.
Belum lagi, pada setiap krisis, merekalah yang selalu terkena imbas yang paling parah. Kondisi ini semakin sulit dengan adanya persaingan dengan golongan Cina yang semakin banyak dan kuat dalam ekonomi. Hanya satu keinginan para tokoh Sarekat Rakyat saat itu yaitu berjuang untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan yang disebabkan oleh kaum kapitalis. Sarekat Rakyat sebenarnya lebih bersifat sekuler, sebab mereka lebih mengidolakan masyarakat tanpa kelas, yang pada masa itu dipengaruhi oleh kalangan bangsawan kerajaan. Ditambah lagi dengan kehadiran bangsa Barat. Sehingga tingkatan status sosial dalam masyarakat begitu mencolok. Pada masa ini lah munculnya propaganda tentang hal-hal mistis yang direkayasa oleh tokoh-tokoh SI guna mempengaruhi dan mengambil hati rakyat, khususnya rakyat jelata. Misalnya ramalan-ramalan tentang mesianistis mengenai Ratu Adil dimanfaatkan sebagai propaganda di Jawa. Selain itu, mereka lebih mengakui Pangeran Diponegoro, Kyai Maja, dan Sentot sebagai pahlawan.
“Mohammad Hambal atau Bung Tambal, disebut-sebut sebagai salah seorang penggagas konsep Negara Indonesia”
Haji Rais memilih mengikuti Sarekat Rakyat yang digawangi oleh Gusti Sulung Lelanang untuk menetang pemerintah Belanda secara non-cooperation, terbuka, dan berani. Visi dari Sarekat Rakyat dirasa cocok dengan gerak perjuangan Haji Rais yang menentang segala bentuk penindasan dan pengisapan kepada rakyat. Propaganda politik yang dilakukan oleh kelompok yang disebut berhaluan kiri banyak memikat hati kaum pergerakan, termasuk Haji Rais karena sifatnya yang revolusioner, sesuai dengan jiwa muda dan idealisme kaum muda intelektual pada masa itu.
Hal ini dimanfaatkan oleh golongan yang disebutkan berhaluan kiri untuk membakar semangat rakyat Kalimantan Barat. Namun, mereka tidak mengetahui secara mendalam apa sesungguhnya maksud dan tujuan golongan yang disebutkan berhaluan kiri sebenarnya. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang ada di Surat Kabar Halilintar yang berkisar pada penanaman kebencian terhadap keberadaan imperialisme dan kapitalisme. Buah pemikiran dan keberanian Haji Rais dianggap berbahaya bagi PID (Politieke Inlichtingen Dienst) yaitu lembaga yang didirikan oleh pemerintah Belanda untuk mengawasi gerak-gerik pers, terutama media massa.
Surat kabar Halilintar saat itu dianggap telah membangkitkan kesadaran rakyat untuk melawan pemerintah Belanda. Tindakan Haji Rais yang tidak mengindahkan peringatan PID ini membuat beliau dan pengurus Halilintar ditangkap dan dijebloskan ke penjara Sungai Jawi.
Pada masa itu, Haji Rais sempat meminta pembebasan kepada Sultan Syarif Muhammad. Permintaan itu dikabulkan asalkan permohonan maaf itu harus keluar dari mulut Haji Rais, dan bahkan Sultan akan mengangkat Haji Rais sebagai pegawai keraton dengan gaji f 250. Namun, penawaran Sultan ditolak oleh Haji Rais dengan mengucapkan:
“Aku tidak merasa bersalah kepada Sultan. Sampai mati aku tidak mau minta ampun kepada Sultan. Aku hanja mohon ampun kepada Allah SWT sadja. Dan hal itu setiap waktu aku amalkan. Kepada Allah aku memang senantiasa bersalah tetapi kepada Sultan aku tidak perlu minta ampun dan aku pun tidak ingin mendjadi Pegawai Keraton menjadi alat penindas rakjat. Kalau Sultan menganggap aku bersalah itu terserahlah. Sultan ada mempunyai kekuasaan”. Begitulah ucapan Haji Rais yang tetap memegang teguh pada ajaran agama dan idiologinya.
“Aku tidak merasa bersalah kepada Sultan. Sampai mati aku tidak mau minta ampun kepada Sultan. Aku hanja mohon ampun kepada Allah SWT sadja. Dan hal itu setiap waktu aku amalkan. Kepada Allah aku memang senantiasa bersalah tetapi kepada Sultan aku tidak perlu minta ampun dan aku pun tidak ingin mendjadi Pegawai Keraton menjadi alat penindas rakjat. Kalau Sultan menganggap aku bersalah itu terserahlah. Sultan ada mempunyai kekuasaan”
Hal itu tetap tidak berubah sampai akhir hayatnya. Walaupun ditawari kehidupan yang enak dan terjamin masa depannya, itu tidak menjadikan Haji Rais silap mata. Haji Rais tetap ingin berjuang untuk rakyat meski harus hidup tak enak di penjara. Kiprah Haji Rais dalam dunia junalistik dan organisasi Sarekat Rakyat juga membuatnya ditangkap dan ditahan di Batavia dan mengantarkan Haji Rais ke pembuangan di Boven Digul. Apalagi setelah pemerintah Hindia Belanda mengetahui keterlibatan Haji Rais dan teman-temannya pada Kongres Pemuda I pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926 di Lapangan Banteng, Jakarta. Haji Rais dan semua tokoh Sarekat Rakyat, yaitu Gusti Hamzah dari Teluk Melano-Ketapang, Djeranding Sari Sawang Amasundin atau Jeranding Abdurrahman dari Malapi Kapuas Hulu, Achmad Marzuki dari Pontianak, Gusti Sulung Lelanang, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Djohan Idrus, Achmad Sood, Mohammad Hambal atau Bung Tambal, dan Mohammad Sohor dari Landak, diputuskan dibuang seumur hidup ke Tanah Merah, Boven Digul, Irian Jaya (Papua) melalui pengadilan Batavia berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 April 1927.
Begitulah resiko dari sebuah perjuangan membela kehormatan tanah air dan bangsa menyebabkan Haji Rais dan para tokoh pergerakan rela mengalami penderitaan dalam pembuangan. Ketika akan dibawa ke Boven Digul, Haji Rais sempat berpidato singkat dihadapan khalayak, yaitu,
“Ini oepah orang yang berdjoeang membela kehormatan tanah air dan bangsa. Boei, boeangan dan gantoengan oepahnja. Kami rela dan ichlas berkorban oentoek kepentingan kehormatan dan kemerdekaan Bangsa dan tanah air. Saoedara-saoedara tak oesah kasihan melihat dan memandang kami begini ini. Kami tidak minta saoedara-saoedara kasihan, kami hanja minta kepada saoedara-saoedara teroeskanlah perdjoeangan kita. Patah toemboeh hilang berganti. Tidak lama lagi Indonesia pasti Merdeka. Belanda pasti enjah dari Borneo.” Salah satu tujuan utama pemerintah Hindia Belanda mengumpulkan semua orang yang tergabung dalam organisasi berhaluan kiri yang mereka sebut komunis dan Sarekat Rakyat menjadi satu di Boven Digul untuk mengetahui bagaimana rencana dan praktek kemerdekaan yang dicita-citakan oleh kelompok intelektual Nusantara.
“Ini oepah orang yang berdjoeang membela kehormatan tanah air dan bangsa. Boei, boeangan dan gantoengan oepahnja. Kami rela dan ichlas berkorban oentoek kepentingan kehormatan dan kemerdekaan Bangsa dan tanah air. Saoedara-saoedara tak oesah kasihan melihat dan memandang kami begini ini. Kami tidak minta saoedara-saoedara kasihan, kami hanja minta kepada saoedara-saoedara teroeskanlah perdjoeangan kita. Patah toemboeh hilang berganti. Tidak lama lagi Indonesia pasti Merdeka. Belanda pasti enjah dari Borneo”
Selain itu mereka ingin mengorek lebih jauh tentang keterlibatan Kekaisaran Rusia yang telah mendukung dan menyokong terwujudnya kemerdekaan di tanah air Nusantara.
Pada tanggal 27 Juni 1927, Haji Rais bersama teman-temannya dan para tokoh perjuangan perjuangan lainnya di seluruh Nusantara tiba di Boven Digul, setelah melewati berbagai barak militer. Mereka semua mendapat hinaan dan dirantai selama perjalanan menggunakan kapal api.
Di Boven Digul saat itu telah ada 14 barak sepanjang 30 meter dan lebar 4 meter, beratap daun rumbia dan berdinding perlak. Salah satu barak itu digunakan sebagai rumah sakit, dan lainnya sebagai tempat tinggal semua tahanan. Kondisi lingkungannya berbau busuk. Banyak para tahanan yang tergigit pacet dan binatang lainnya di tempat itu. Sebagian besar tahanan pada masa itu badannya telah dipenuhi perban dan pelester, serta terkena penyakit malaria. Meski dalam penderitaan dan kondisi yang sangat memperihatinkan, para pejuang yang ditahan di Boven Digul, masih berkumpul secara sembunyi-sembunyi guna merumuskan konsep kemerdekaan yang dicita-citakan. Disinilah muncul bagaimana peran perumusan kemerdekaan dan konsep negara Indonesa dari beberapa tokoh pejuang dari Kalimantan Barat, diantaranya yaitu Mohammad Hambal atau Bung Tambal, Gusti Djohan Idrus dan Mohammad Sohor. Meski ketiganya meninggal dunia di Boven Digul.
Dan dari ketiga nama ini, yang paling menonjol adalah Mohammad Hambal atau Bung Tambal. Mendapatkan gelar panggilan “Bung” dari tokoh-tokoh tahanan angkatan pertama di Boven Digoel, karena buah pemikirannya yang cemerlang tentang Konsep Negara Indonesia, termasuk lambang negara yang kini menjadi lambang Negara Republik Indonesia. Kecemerlangan pemikirannya pada konsep negara Indonesia, membuat Bung Tambal sering diinterogasi dan mengalami penyiksaan oleh militer Belanda. Yang pada akhirnya membuatnya meninggal dunia.
Konsep besar dari tokoh-tokoh Boven Digoel Angkatan Pertama yang menjadi latar belakang pembantaian Jepang di Mandor. Tokoh-tokoh Boven Digoel Angkatan Pertama disebut-sebut sebagai Konseptor awal dan telah melahirkan Indonesia pada saat itu. Tahun 1925, Uni Soviet sudah mendukung kemerdekaan Negara Indonesia yang konsepnya dari tokoh-tokoh yang kemudian dibuang ke Boven Digoel. Konsep besar dari tokoh-tokoh angkatan pertama ini, pertama kali terealisasi pada kongres pemuda pertama tahun 1926 dan kongres kedua tahun 1928. Adapun Goesti Djohan Idrus meninggal dunia setelah dua kali lari dari Boven Digul. Pelarian pertama, ketika ia bertekad untuk mengikuti Kongres Pemuda I. Sedangkan Mohammad Sohor meninggal dunia setelah ia melukai seorang penjaga militer Belanda ketika mengikuti Goesti Djohan Idrus pada pelarian yang kedua.
“Mohammad Hambal atau Bung Tambal, mendapat gelar panggilan “Bung” dari tokoh-tokoh tahanan angkatan pertama di Boven Digoel, karena konsepnya yang cemerlang tentang Negara Indonesia dan lambang negaranya”
Sementara itu, Gusti Sulung Lelanang, selama di Boven Digul telah menulis sebuah novel berjudul “Melati Van Digoel” yang bercerita tentang kisah romansa Achmad Sood ketika berada di Boven Digoel. Novel karya Gusti Sulung Lelanang ini merupakan novel pertama dari kalimantan Barat. Kemudian, Gusti Moehammad Situt Machmud terkenal di Boven Digul sebagai penangkap ikan yang handal. Ketika di Boven Digul, Haji Rais ditempatkan di Kampong B bersama dengan Mohammad Sohor, R. Mahmud Susilo Suwignjo dan juga kawan-kawan lain dari Kalimantan Barat. Selama di Boven Digul, Haji Rais juga mengikuti kursus bahasa, yakni bahasa Arab, Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis. Untuk bahasa Belanda dan Inggris Haji Rais menjadi gurunya, sebab sebelum dibuang, dua bahasa ini telah dikuasainya.
Selama dalam pembuangan, Haji Rais juga belajar banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh organisasi yang dikenalnya selama ini. Selama dalam pembuangan itu terjadi pertentangan antara para pemimpin Sarekat Islam (SI) dan Sarekat Rakyat (SR) yang sama-sama dibuang. Haji Rais merasa kecewa terhadap para tokoh yang saling melepas tanggung jawab dan cuci tangan dan saling bermusuhan. Nilai-nilai agama yang dijunjung tinggi para tokoh pergerakan Kalimantan Barat ternyata tidak ada artinya bagi ajaran kedua organisasi itu. Hingga kemudian dicabutnya besluit pengasingan oleh Gubernur Jenderal B.C. de Jonge tahun 1931-1936, maka Haji Rais kembali ke Pontianak pada tahun 1932.
Haji Rais kemudian menikah dengan seorang gadis bernama Sahara binti Dolek, tetangganya di Kampong Parit Mayor. Pernikahannya ini setelah Haji Rais pulang dari pembuangan dari Tanah Merah Boven Digul, Papua pada tahun 1936 dalam usia 32 tahun. Setahun kemudian, lahirlah Latifah sekitar tahun 1937 dan kemudian disusul adiknya Asnah pada tahun berikutnya. Keluarga Haji Rais menetap dan tinggal di Parit Mayor bersama keluarga besarnya. Selama enam tahun Haji Rais tidak aktif dalam pergerakan, Haji Rais berfokus pada rumah tangganya. Namun, dengan kembalinya Gusti Sulung Lelanang pada tahun 1938, Haji Rais kembali aktif untuk memperjuangkan keadilan dan kebebasan bagi rakyat Kalimantan Barat. Haji Rais dan kawan-kawan memilih Parindra sebagai sarana perjuangan mereka, karena Parindra bisa mengantarkan pada cita-cita perjuangan mereka.
Parindra didirikan oleh golongan pergerakan kebangsaan pada tahun 1935 di Jawa. Organisasi yang digawangi oleh Dr. Soetomo ini mendapat sambutan yang baik dari para tokoh di Kalimantan Barat, karena sudah lama organisasi politik mati suri. Keanggotaannya menampung semua masyarakat tanpa memandang suku atau agama, untuk mencapai persatuan Indonesia. Program Parindra yaitu memperkokoh semangat persatuan kebangsaan Indonesia, menjalankan aksi politiknya hingga diperoleh hak-hak lengkap dalam politik dan suatu sistem pemerintahan yang berdasarkan demokrasi dan nasionalime, dan memajukan perikehidupan rakyat dalam hal ekonomi dan sosial.
“Haji Rais menikah pada tahun 1936 dengan Sahara binti Dolek, tetangganya di Kampong Parit Mayor, dan dianugerahi anak bernama Latifah tahun 1937, kemudian disusul adiknyabernama Asnah pada tahun berikutnya”
Pada tahun 1936 berdirilah organisasi nasionalis Parindra di Kalimantan Barat yang dinakhodai oleh Raden Koempoel dan kawan-kawan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama berdirilah cabang-cabang Parindra di daerah Kalimantan Barat. Dengan masuknya para tokoh pergerakan eks-Digulis, perkembangan Parindra tidak dapat lagi dibendung oleh pemerintah Belanda. Dukungan terhadap Parindra juga diberikan oleh para kerabat keraton yang tentu saja masih mempunyai karisma dalam menggerakkan massa di Pontianak. Syarif Husein bergelar Pangeran Adipati bersama-sama para kerabat keraton sebanyak 30 orang, ikut menghadiri rapat yang diselenggarakan pertama kalinya oleh Parindra di gedung bioskop “Excelent’ (bioskop Khatulistiwa). Dalam waktu tiga tahun mampu menyelenggarakan konferensi daerah pertama di Singkawang. Dalam konferensi tersebut selain mendukung keputusan Kongres Parindra di Bandung (1938) juga berhasil mengangkat pimpinan baru yaitu R. Mahmud Susilo Suwignjo (eks-Digulis) menjadi ketua wilayah Kalimantan Barat.
Tindakan kooperatif diambil oleh Haji Rais dan kawan-kawan karena pengalaman pahit yang pernah dialami oleh para tokoh pergerakan pada sekitar tahun 1927 yaitu dibuang ke Boven Digul karena perlawanan kerasnya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan kemerdekaan jalan yang harus ditempuh adalah dengan cara tidak harus menentang pemerintah (kooperatif). Jasa mereka adalah pemikiran-pemikiran untuk mengembangkan jaringan organisasi Parindra sampai ke pelosok-pelosok daerah.
Dengan terbentuknya organisasi kepemudaan Surya Wiryawan sebagai underbow Parindra mempunyai misi pengaderan dan usaha pendidikan, yaitu kursus kader politik, pendidikan dengan mendirikan lima sekolah rakyat, kesenian, dan olahraga.
Untuk membiayai segala perjuangan menuju kemerdekaan, para perintis kemerdekaan ini saling membuka usaha masing-masing. Pada tahun 1943, Ya’ Mohammad Sabran membuka usaha Rumah Makan dan tempat bermain billiard bernama “CIYODA” yang saat ini dinamakan dengan rumah makan sahara dengan menu yang paling terkenal yaitu Ikan Asam Pedas. Sedangkan Jeranding Abdurrahman membuka usaha toko Foto dengan nama FUKU serta usaha kapal Bandong antara Pontianak dan Kapuas Hulu. Mereka melakukan kerjasama dan saling mengumpulkan uang untuk mendirikan sebuah masjid bernama Baiturrahman di Jl. Abdurrahman.
Kemudian Ya’ Mohammad Sabran juga sempat mengajar di MULO yaitu salah satu sekolah Belanda bersama Raden Anong Putro Kulopaking dan juga Ade Johar, serta Hasan Saleh. Melalui usaha tersebut, beliau berusaha untuk mebiayai perjuangan tersebut. Adapun Haji Rais menerbitkan surat Kabar yang bernama “kapuas Review”, bersama Pak Uteh Ma’rus sebagai redaktur. Selain itu, Jeranding juga menerbitkan surat kabar dengan nama Borneo Barat Bergerak.
“Untuk membiayai segala perjuangan menuju kemerdekaan, para perintis kemerdekaan saling membuka, melakukan kerjasama dan saling mengumpulkan uang untuk mendirikan sebuah masjid bernama Baiturrahman di Jl. Abdurrahman”
Adapun Gusti Johan Idrus, sebelum dibuang di Boven Digul hingga meninggal dunia disana, telah menerbitkan surat Kabar bernama “Halilintar”.
Selain sebagai jurnalis, Haji Rais juga menjadi pengacara atau konsultan. Berikut contoh iklan dari Haji Rais dalam Madjalah Boelanan Kesedaran No. 2 Tahun II Februari 1940, halaman 21,
Kabar baik dan bergoena
Sedia memberikan pertolongan Djika toean mendapat hal, ada oeroesan, ada perkara atau hendak bertanjakan tentang sesoeatoe hal dan sebagainja, mintalah pertolongan pada:
HADJI RAIS ABDOERRACHMAN
H. Toolweg No. 30 Pontianak
Vertegenwoordiger
v/h Administratiekantoor “Bahagia”
Sultanweg no. 9 Pontianak
Pada tahun 1942, istrinya Haji Rais, Sahara, meninggal dunia, ketika usia Latifah baru 4 tahun dan Asnah 3 tahun. Setelah itu mulai masuk tentara Jepang di Kalimantan Barat. Dalam waktu beberapa bulan setelah istrinya meninggal dunia, Haji Rais menikah lagi dengan Mursinah, seorang wanita dari Sambas yang bekerja sebagai mantan koki orang Belanda. Sejak itu, Latifah diasuh oleh ibu tirinya. Kehadiran Jepang di Kalimantan Barat mengubah segalanya, sebanyak 13 organisasi yang bersifat lokal di Kalimantan Barat dibubarkan, seperti Persatuan Anak Borneo, Surya Wirawan, Pemuda Muhammadiyah, dan sebagainya. Namun sebenarnya, nama-nama organisasi itu hanya dalih terselubung Jepang. Karena sesungguhnya, 13 organisasi itu adalah nama-nama daerah yang pada saat itu telah bertekad bernaung dalam negara Borneo sebagaimana konsep tokoh-tokoh Boven Digul.
Sebagai penggantinya dibentuklah organisasi pemuda Nissinkai. Kaum intelektual dan terpelajar merasa gelisah karena selalu dicurigai oleh Jepang. Pemerintah Jepang mulai menangkapi para tokoh pergerakan atau intelektual karena Jepang merasa curiga akan melakukan perlawanan, tanpa terkecuali Haji Rais, yang kemudian meninggal dunia dibunuh Jepang di Mandor. Konsep besar dari tokoh-tokoh mantan Boven Digoel Angkatan Pertama yang menjadi latar belakang penangkapan dan pembantaian Jepang di Mandor.
Untuk menyelamatkan keluarganya dari Jepang, Haji Rais memboyong keluarganya ke Singkawang. Pada akhirnya, tahun 1944 Haji Rais ditangkap dan dibunuh oleh Jepang. Sementara itu, anaknya Latifah dan Asnah beserta dengan istrinya Mursinah ditolong dan disembunyikan oleh seorang warga Tionghoa di Singkawang. Sepeninggal Haji Rais, Mursinah menikah lagi pada tahun 1977. Adapun kedua anak Haji Rais, yaitu Latifah dan Asnah diboyong oleh pamannya bernama Kapi bin Haji Dullah ke Kampong Parit Mayor Pontianak. Keduanya diasuh oleh bibinya bernama Saimah dan suaminya bernama Hasan yang bekerja sebagai pedagang besi bekas di pasar loak. Setelah dewasa Latifah menikah pada tahun 1962 dengan seorang laki-laki bernama Abdul Wahid. Pernikahan Latifah dengan Abdul Wahid melahirkan tiga orang anak, yaitu Sumiati, Suaib, Mulyadi, dan Wahyudi. (Tom)
Dikutip dari buku “Sepenggal Catatan Tentang HADJI RAIS ABDOERRACHMAN

Pingback: Haji Rais bin Abdoerrachman – KALBARHISTORY.COM
You’re awesome!
Pingback: Gusti Sulung Lelanang Marah kepada Van Hasselt - DEKADE
Pingback: Dasawarsa Courant Pre-Launching Buku Goesti Soeloeng Lelanang - DEKADE