
Kolase foto akun Instagram dan video oknum guru yang melakukan hubungan sesama jenis dan Tangkapan layar video yang beredar di media sosial.
PONTIANAK. Dekade— Dunia pendidikan di Kalimantan Barat kembali tercoreng setelah beredarnya sebuah video tidak senonoh yang diduga melibatkan seorang oknum guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Pontianak.
Video yang menampilkan adegan hubungan sesama jenis tersebut menyebar luas di platform media sosial X.
Dalam video itu, terlihat dua pria melakukan tindakan asusila yang diduga kuat dilakukan oleh oknum guru SMK bersama pasangan prianya.
Rekaman tersebut telah beredar luas dan memicu kegaduhan di tengah masyarakat.
Ketua Humanity Women Children Indonesia (HWCI) Eka Nurhayati Ishaq mengungkapkan, pihaknya menemukan informasi terkait kasus tersebut dari sejumlah akun media sosial.
Ia menyebut, perilaku menyimpang itu tidak hanya dilakukan secara terang-terangan, tetapi juga direkam oleh oknum guru tersebut dan kemudian disebarkan melalui platform X.
“Video tidak senonoh ini kemudian ditonton oleh banyak pihak. Hal ini menjadi keresahan dan memunculkan pertanyaan masyarakat di Kota Pontianak mengenai tindakan apa yang telah dilakukan aparat penegak hukum dan dinas terkait terhadap oknum guru tersebut,” ujar Eka, pada Minggu, 23 November 2025.
Dari penelusuran HWCI, video tersebut ternyata sudah beredar sejak satu tahun yang lalu. Eka menduga pihak sekolah dan dinas terkait telah mengetahui keberadaan video itu, namun tidak mengambil langkah tegas.
“Ini yang sangat kami sayangkan. Mengapa pihak yang mengetahui kejadian ini justru memilih diam? Tindakan oknum guru ini merupakan perbuatan tidak bermoral dan memiliki unsur pidana,” tegasnya.
Eka mengatakan, pemerintah seharusnya menaruh perhatian besar terhadap kondisi psikologis siswa, yang berpotensi terpengaruh oleh perilaku oknum guru tersebut.
“Kami berharap pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar mengambil tindakan tegas terhadap oknum guru ini. Jangan sampai perilakunya dibiarkan sehingga videonya terus dikonsumsi dan bahkan dicontoh oleh peserta didik maupun anak-anak lainnya,” tegas Eka. (Red)
