ILMU NUJUM DALAM BUDAYA MASYARAKAT MELAYU

By | November 8, 2024

Majalah Dekade Volume 1, November 2024

majalahdekade.tomsbook.co.id. Sabtu, 20 Agustus 2011, pukul 03:00 Shubuh saya memulai perjalanan yang kedua ke 100 Masjid di Kalimantan Barat, setelah sebelumnya saya telah  melakukan perjalanan lebih dari 100 hari. Perjalanan ini berakhir pada hari Minggu, 27 November 2011.

Tujuan perjalanan ini adalah untuk mempelajari lebih jauh tentang ilmu perhitungan yang telah lama saya pelajari pada beberapa orang guru. Dimana ilmu perhitungan ini, termasuk dalam salah satu bagian ilmu Thariqat yang saya pelajari. Meski tidak tahu, saya harus kemana dan menemui siapa dalam perjalanan ke 100 Masjid itu. Namun saya berkeyakinan, diantara 100 Masjid yang saya kunjungi itu, yang tentunya atas kehendak Allah juah, saya akan bertemu dengan orang yang fasih dalam ilmu perhitungan ini. Dalam perjalanan ke 100 Masjid itu, saya pun bertemu dengan beberapa orang tua yang fasih dalam ilmu perhitungan. Dan dari orang-orang tua ini, baru lah saya ketahui jika ilmu perhitungan ini merupakan salah satu bagian ilmu Nujum dalam budaya masyarakat Melayu. Dimana dasar ilmu perhitungan ini kebanyakan bersumber dari Kitab berjudul At-Thawali’ al-Hadatsiyyah Lirrijal wan Nisa’, hasil karya Abu Ma’syar Al-Falaki. Kitab tersebut merupakan Kitab Astrologi yang sangat terkenal pada masa dahulu.

Nujum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti bintang atau perbintangan. Nujum juga dapat diartikan sebagai perbintangan untuk meramalkan nasib seseorang.  Ahli nujum adalah orang yang memiliki keahlian dan pengetahuan untuk meramalkan peristiwa di masa depan. Mereka melakukan hal ini dengan mengamati dan menganalisis pergerakan benda langit, seperti planet, bulan, dan bintang.

Nujum dalam kebudayaan Melayu selalu dikaitkan dengan ramalan mengenai nasib manusia yang dipengaruhi oleh alam sekitarnya sehingga lebih mendekati makna astrologi. Kemudian mengandung pengetahuan mengenai firasat atau takbir. Adapun Ilmu perhitungan adalah ilmu untuk mencari waktu yang baik dalam melakukan suatu upacara, membuat peralatan, memulai pekerjaan bercocok tanam, membangun rumah dan pekerjaan lain yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu Nujum merupakan ilmu untuk meramal sesuatu. Ilmu Nujum  berhubungan dengan Ilmu Bintang atau Astrologi. Dalam bahasa Yunani, astrologi berasal dari kata astro yang berarti bintang, logos yang berarti dunia. Maka astrologi dapat dimaknai sebagai pengetahuan tentang ilmu perbintangan atau sistem ramalan yang  berdasarkan  kepercayaan  bahwa  planet-planet yang ada di langit mempengaruhi perwatakan dan kehidupan seseorang .

“Nujum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti bintang atau perbintangan, atau perbintangan untuk meramalkan nasib seseorang.  Ahli nujum adalah orang yang memiliki keahlian dan pengetahuan untuk meramalkan peristiwa di masa depan, melalui mengamati dan menganalisis pergerakan benda langit, seperti planet, bulan, dan bintang”

Dalam konteks ini, maka segala sesuatu yang berlaku kepada seseorang bermula dengan horoskop atau falakiahnya yaitu gambaran peta langit semasa orang tersebut dilahirkan. Dan simbol zodiak dari seseorang itu dapat diketahui apakah aspek penting untuk dirinya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, jika ilmu perhitungan termasuk dalam salah satu bagian ilmu Nujum dalam budaya masyarakat Melayu untuk mencari waktu yang baik dalam melakukan suatu pekerjaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dimana dasar ilmu perhitungan itu kebanyakan bersumber dari Kitab Abu Ma’syar Al-Falaki, berjudul At-Thawali’ al-Hadatsiyyah Lirrijal wan Nisa’.

Abu Ma’syar al-Falaki atau dikenal juga dengan Abu Ma’shar al-Balkhi adalah Ilmuwan pertama yang membantah teori-teorinya Aristoteles. Nama lengkap beliau adalah Abu Masyar Ja’far Ibnu Muhammad Ibnu Umar. Berdasarkan catatan di beberapa sejarah, Abu Ma’syar Al-Falaki lahir pada tanggal 10 Agustus 787 Masehi di Balkh, sebuah kota di sebelah timur Khurasan, dahulunya merupakan wilayah Persia namun sekarang menjadi kawasan Afganistan. Di Barat dia dikenal dengan nama Albumasar. Abu Ma’syar adalah ahli astronomi dan astrologi. Ia adalah orang yang mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk mendalami dan mengembangkan ilmu astronomi. Banyak karya-karyanya ditulis dalam bahasa Arab dan Persia.

Ilmu Astrologi yang dimaksudkan disini adalah yang berhubungan dengan rasi bintang. Setelah menyelesaikan studi Tradisi Islam Klasik di Baghdad, Abu Ma’syar mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mempelajari ilmu astronomi dan astrologi, yang kemudian ditulisnya. Sejak remaja, Abu Ma’syar sudah mempelajari tradisi kuno Arab. Ia terus memperdalam pengetahuannya di bidang itu sembari mempelajari bidang lain, seperti astronomi. Pada masa itu, ilmu astrologi belum dihubungkan dengan ilmu nujum. Abu Ma’syar menguasai astrologi yang bermuatan sains. Ia menghasilkan sejumlah karya astrologi yang banyak dipengaruhi prinsip dasar dan hukum-hukum astronomi. Karyanya itu berisi sejumlah pengamatan yang telah dilakukannya, salah satunya adalah mengamati komet. Sehubungan dengan hal itu, Tycho Brahe berpendapat bahwa Abu Ma’syar adalah ilmuwan pertama yang menyanggah pendapat Aristoteles bahwa dia telah mengamati komet-komet di Sfera Planet Venus. Tycho Brahe menulis pendapat itu dalam bukunya yang berjudul Progymnastica. Abu Ma’syar juga pernah menghasilkan sebuah himpunan Tabel Astronomi (Zij) dan sebuah risalah yang terdiri dari delapan buku. Risalah yang berjudul al-Madkhali al-Kabir il Ilm al-Nujum (Pengantar Besar ke Ilmu Astrologi) ini telah dua kali diterjemahkan dalam bahasa Latin. Pertama, oleh Johanes Hispalensis tahun 1130 M. Kedua, oleh Hermanus Secundus pada tahun 1150 M. Keberadaan karya-karya Abu Ma’syar ini sangat memengaruhi para ilmuwan Timur dan Barat.

Pada abad pertengahan, para ilmuwan Eropa memelajari Hukum Pasang Surut Air Laut dari buku Abu Ma’syar. Dalam penjelasan itu terdapat beberapa uraian yang sangat mengagumkan karena sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan modern. Misalnya, teori tentang pengaruh bulan terhadap angin, curah hujan, dan sebagainya. Hingga kini, karya tersebut masih sering dijadikan bahan rujukan oleh para ahli matematika dan geografi.

Selain itu Abu Ma’syar al-Balkhi dikenal pula sebagai seorang filosof. Adapun gelar al-Falaki ditabalkan para ilmuwan di era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah kepada Abu Ma’syar berkat kehebatannya dalam bidang astrologi (ilmu perbintangan).

Gerrit Bos dalam tulisannya bertajuk Abu Ma’syar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology, Together with the Medieval Latin Translation of Adelard of Bath, menyebut Abu Ma’syar sebagai astrolog hebat di abad ke-9 M. Abu Ma’syar tak hanya berpengaruh dalam bidang astrologi, ia juga berkontribusi besar dalam bidang kedokteran. Penjelasan mengenai soal epidemik, merupakan salah satu pengaruh besar Abu Ma’syar dalam bidang kedokteran di Eropa. Abu Ma’syar menghubungkan masalah kedokteran dengan fenomena luar angkasa lewat teorinya yang disangat popular, yakni Theory of the Great Conjunctions. Menurut teori ini, hubungan planet tertentu dapat menyebabkan bencana alam dan politik.

“Gelar al-Falaki ditabalkan para ilmuwan di era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah kepada Abu Ma’syar berkat kehebatannya dalam bidang astrologi (ilmu perbintangan)”

Salah satu bencana besar yang dihubung-hubungkan para dokter di abad ke-14 dengan teori yang dicetuskan Abu Ma’syar adalah fenomena Black Death. Hal ini menunjukkan betapa pemikiran Abu Ma’syar begitu berpengaruh terhadap peradaban Barat. Karya-karya Abu Ma’syar dalam bidang astrologi begitu populer dan sangat berpengaruh bagi peradaban masyarakat Eropa Barat di abad pertengahan. Sederet adikarya sang Astrolog Muslim itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Abu Ma’syar merupakan seorang ilmuwan yang serba bisa. Selain sebagai seorang ahli astrologi (ilmu perbintangan), Abu Ma’syar juga menguasai matematika, astronomi, dan filsafat Islam. Ia menekuni matematika saat berusia 47 tahun, setelah kenal dan berkecimpung dalam dunia astrologi. Ia merupakan murid dari seorang guru yang sangat legendaris, yakni al-Kindi, ilmuwan Muslim di abad ke-8 M. Seperti sang guru, nama Abu Mas’yar begitu populer di dunia Barat. Abu Ma’syar telah berjasa menyatukan pelajaran ilmu perbintangan dari berbagai sumber Islam yang luas.

Abu Ma’syar merupakan salah satu orang yang berperan sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sayangnya, tak banyak umat Islam di era modern yang mengetahui kisah hidup Abu Ma’syar. Para sejarawan sains pun sangat jarang mengupas kisah hidup sang ilmuwan. Tak heran, jika banyak hal dalam sejarah hidup sang ilmuwan yang masih misterius dan menjadi perdebatan di kalangan para sejarawan.

Abu Ma’syar pernah menulis tabel astronomi dan kutipan horoskop (zodiak) dalam bukunya yang bertajuk At-Thawali’ al-Hadatsiyyah Lirrijal wan Nisa’ atau di Eropa dikenal dengan The Revolutions of the Years of Nativities. Salah satu misteri yang belum terungkap secara pasti tentang Abu Ma’syar adalah tahun wafatnya. Al-Biruni (973 – 1048 M) dalam karyanya bertajuk Chronology of the Ancient Nation menuturkan bahwa Abu Ma’syar masih melakukan pengamatan astrologi pada tahun 892 M atau enam tahun sesudah tahun kematian yang disebutkan oleh para sejarawan. Al-Biruni dalam karyanya Book of Religions and Dynasties juga mengambil referensi dari karya Abu Ma’syar mengenai posisi bintang yang ditulis pada tahun 896/897 M. Karya tersebut ditulis Abu Ma’syar ketika berusia lebih dari 100 tahun. Ibnu al-Nadim dalam karyanya berjudul Fihrist mengungkapkan bahwa Abu Ma’syar merupakan ilmuwan dan filsuf yang menentang pandangan Helenistik. Pandangan Abu Ma’syar ini kemudian dimanfaatkan al-Biruni untuk mematahkan pendapat filsuf Islam sebelumnya yakni al-Kindi (801-873 M).

Kemasyhuran Abu Ma’syar sebagai ahli astrologi di istana Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad membuat namanya masuk dalam cerita tentang astrologi. Bahkan, Ibnu Tawus (1193-1266 M) mengumpulkan beberapa anekdot Abu Ma’syar dalam bukunya, Faraj al-Mahmum (Biografi Para Astrolog). Sayangnya, nyaris semua karya Abu Ma’syar dalam bidang astronomi telah hilang, dan hanya karya astrologinya dalam bahasa Arab yang masih tersisa.

“Selain seorang ahli astrologi (ilmu perbintangan), Abu Ma’syar juga menguasai matematika, astronomi, dan filsafat Islam. Ia menekuni matematika saat berusia 47 tahun”

Nama Abu Ma’syar tampaknya lebih populer di dunia Barat, ketimbang di dunia Islam modern. Nyaris tak ada pelajaran yang diajarkan di sekolah di Indonesia yang menyebut nama dan kontribusi Abu Ma’syar di era kekhalifahan.

Meski Abu Ma’syar telah tiada, namun namanya tetap dikenang dan diperbincangkan kalangan ilmuwan, khususnya di dunia Barat. Salah satu buku yang ditulis Charles Burnett bertajuk Abu Ma’syar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology merupakan bukti betapa pemikiran sang ilmuwan masih dianggap penting oleh dunia Barat. Richard Lemay dalam karyanya berjudul Abu Ma’syar and Latin Aristotelianism in the Twelfth Century, The Recovery of Aristotles Natural Philosophy through Iranian Astrology, tertarik dengan pemikiran sang astrolog Muslim. Lemay berargumentasi tulisan Abu Ma’syar sangat mirip dengan salah satu karya terpenting teori Aristoteles tentang alam. Salah satu karya Abu Ma’syar dalam bidang astrologi yang sangat berpengaruh berjudul Kitab al-Mudkhal al-Kabir. Kitab ini terdiri dari 106 bab. Karyanya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1133 M dan tahun 1140 M. Selain itu, buku tulisan Abu Ma’syar pun diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Tak heran, jika buah pikir Abu Ma’syar telah memiliki pengaruh yang signifikan kepada ahli filsafat Barat, salah satunyai Albert The Great. Abu Ma’syar juga menulis sebuah versi ringkas dalam mengenalkan karyanya Kitab Mukhtafar al-Mudkhal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Adelard of Bath.

Buku lainnya yang ditulis Abu Ma’syar yang terkenal dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bertajuk Introductorium in Astronmiam. Buku itu merupakan terjemahan dari kitab berbahasa Arab yakni Kitab al-Mudkhal al-Kabir ila eIlm Ahkam Annujjum, yang ditulis Abu Ma’syar di Baghdad pada 848 M. Kali pertama, kitab itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin oleh John of Seville pada 1133 M, dan selanjutnya, literatur dibuat lebih sedikit dan ringkas oleh Herman of Carinthia pada 1140 M. Karya lainnya yang ditulis Abu Ma’syar adalah sejarah astrologi yang memperkenalkan tradisi Sasaniah. Ini dibuat pada era kekuasaan Khalifah al-Mansur, khalifah kedua pada dinasti Abbasiyah. Ini merupakan bagian strategi politik al-Mansur untuk memberikan sebuah yayasan untuk lahirnya dinasti baru, dan tentu saja itu digunakan paling efektif antar Dinasti Abbasiyah sebelumnya. Buku Abu Ma’syar yang monumental dalam kategori sejarah adalah Kitab al-Milal wa-l-Duwal (Kitab tentang agama-agama dan dinasti). Buku itu terdiri dari delapan bagian dalam 63 bab. Karyanya yang satu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dibaca oleh Roger Bacon, Pierre d’Ailly, dan Pico della Mirandola (1463-1494 M). Pemikiran Abu Ma’syar ini tentunya juga dibahas dalam karya besar mereka. Karya lain dalam kategori ini meliputi Fi dhikr ma tadullu elayhi al-ashkhas al-fulwiyya, Kitab aldalalat elaalittisalat waqiranat al-kawakib, dan Kitab aluluf (Book of Thousands), yang tidak bertahan lama tapi ringkasannya dipelihara oleh Sijzi (945-1020 M).

Karya lainnya dari sang ilmuwan dikategorikan dalam genethlialogi, yaitu ilmu pengetahuan mengenai pemilihan kelahiran adalah Kitab Tahawil Sini al-Mawalid (Book of the revolutions of the years of nativities). Kitab ini telah dialih bahasakan ke bahasa Yunani, terdiri sembilan volume dan terbagi menjadi 96 bab. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani hanya lima volume dan terdiri dari 57 bab.Karya lain Abu Ma’syar yang masuk dalam kategori ini adalah Kitab Mawalid al-Rijal wa-al-Nisa atau (Buku Asal Pria dan Wanita). Dalam karyanya Introductorium in Astronomiam and De magnis coniunctionibus, Abu Ma’syar mengatakan, dunia diciptakan ketika tujuh planet bergabung dengan Aries, dan ramalan itu bisa berakhir ketika fenomena yang sama terjadi pada Pisces.

Terjemahan kedalam bahasa Latin dan dalam bahasa sehari-hari menjadikan karyanya beredar luas di Eropa dan menjadi sumber inspirasi untuk literatur penggambaran astrologi dengan beberapa pengarang minor awal era modern. Abu Ma’syar mengembangkan model planet yang beberapa penafsiran sebagai sebuah model heliosentrik. Hal ini menunjukkan pada revolusi orbital planet diberikan sebagai revolusi heliosentrik lebih baik dari pada revolusi geosentrik dan hanya diketahui teori planet di kejadian ini dalam teori heliosentrik. Karya Abu Ma’syar dalam teori planet ini tidak dapat bertahan, tapi data astronomnya terakhir direkam oleh al-Hashimi dan al-Biruni, jelas Bartel Leendert van der Waerden dalam karyanya The Heliocentric System in Greek, Persian and Hindu Astronomy.

Abu Ma’syar dalam penjelasan sejarah disebutkan wafat tahun 886 Masehi di Wasit, ada juga yang menyebutkan beliau wafat di Irak. Namun tahun wafatnya ini menjadi misteri yang belum terungkap, karena menurut al-Biruni, Abu Ma’syar masih melakukan pengamatan astrologi pada tahun 892 M atau enam tahun sesudah tahun kematian yang disebutkan oleh para sejarawan. Bahkan al-Biruni mengambil referensi dari karya Abu Ma’syar mengenai posisi bintang yang ditulis pada tahun 896 / 897 M. Artinya pada tahun tersebut Abu Ma’syar masih ada. Meski wafatnya ilmuwan besar Muslim ini masih menjadi misteri, namun hasil karyanya sangat dikenang oleh dunia.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Abu Ma’syar berkontribusi besar dalam bidang kedokteran di Eropa yaitu dengan teorinya yang sangat popular, yaitu Theory of the Great Conjunctions, telah berhasil menjawab soal epidemik fenomena Black Death yang melanda dunia tahun 1347 M yang disinyalir telah menewaskan 200 juta nyawa hanya dalam 4 tahun. Teori Abu Ma’syar yang menghubungkan masalah kedokteran dengan fenomena luar angkasa telah berhasil menyelesaikan wabah yang melanda dunia pada masa itu. Begitu banyak kontribusi Abu Ma’syar dalam ilmu pengetahuan melalui kitab-kitabnya, meski kitab-kitab yang tergolong penting itu sudah sulit ditemukan.

“Abu Ma’syar berkontribusi besar dalam bidang kedokteran di Eropa yaitu dengan teorinya yang sangat popular, yaitu Theory of the Great Conjunctions, telah berhasil menjawab soal epidemik fenomena Black Death yang melanda dunia tahun 1347 M yang disinyalir telah menewaskan 200 juta nyawa hanya dalam 4 tahun. Teori Abu Ma’syar yang menghubungkan masalah kedokteran dengan fenomena luar angkasa telah berhasil menyelesaikan wabah yang melanda dunia pada masa itu”

Sehubungan dengan Nujum Melayu ini untuk difahami bahwa tentang baik buruknya kehidupan atau beruntung dan nahasnya hidup seseorang bahwa setiap manusia tergariskan dengan kehidupan yang baik dan beruntung namun terdapat sistem dalam putaran lingkaran kehidupan. Sehingga masing-masing manusia saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Orang yang baik mempengaruhi kehidupan orang yang buruk sehingga terlepaslah orang tersebut dari kehidupannya yang buruk. Namun begitu juga sebaliknya, orang yang buruk juga bisa mempengaruhi orang yang baik jika dia tidak pandai bersyukur dengan kehidupan yang telah ia miliki sehingga ia dapat berubah menjadi orang yang buruk. Begitu juga orang yang beruntung membawa pengaruh terhadap orang yang nahas.

Jadi dalam siklus kehidupan manusia baik dan buruk, beruntung dan nahas, itu saling mempengaruhi dan akan berputar dalam siklus kehidupan setiap manusia. Artinya dalam kehidupan setiap manusia akan merasakan baik dan buruk, serta beruntung dan nahasnya kehidupan. Hal tersebut tidak dapat terelakkan.

Adapun ketika telah gilirannya mendapat hal yang buruk atau nahas, mesti bersabar dan bertaubat. Sedangkan jika mendapat hal yang baik atau beruntung, mesti bersyukur. Demikianlah sebaik-baiknya manusia dan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Agar manusia bersyukur apa pun yang telah di takdirkan Allah SWT. Karena apa pun takdir Allah SWT adalah yang terbaik untuk manusia. Wallahu’alam. (Tom)

Dikutip dari buku “Nujum Melayu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *