
Tomi menjadi narasumber tentang Aksara Gholiks di Seminar Pelestarian Aksara Lokal
Jakarta, Dekade – Panitia Penyelenggara Seminar Pelestarian Aksara Lokal sukses menggelar forum diskusi aksara lokal nusantara. Acara ini menjadi momentum untuk merumuskan langkah strategis dalam menyelamatkan aksara-aksara daerah di Indonesia dari ancaman kepunahan.
Salah satu narasumber dalam seminar tersebut, Tomi, peneliti dan penemu Aksara Gholiks dari Kabupaten Sanggau, membawakan materi mendalam mengenai keberadaan Aksara Gholiks. Dalam paparannya, Tomi menekankan bahwa aksara lokal bukan sekadar simbol tulisan sejarah, melainkan cerminan identitas, pandangan hidup, serta rekam jejak peradaban masyarakat pemiliknya.
Tomi memaparkan bahwa masyarakat yang mampu membaca dan menulis Aksara Gholiks sudah sulit ditemukan akibat tergerus arus modernisasi dan dominasi alfabet latin.
“Ketika sebuah aksara berhenti digunakan, kita tidak hanya kehilangan sistem tulisan, tetapi juga kehilangan pintu masuk untuk memahami literatur, mantra, sejarah, dan nilai-nilai kearifan yang tersimpan di dalamnya. Kita harus bergerak sebelum aksara ini benar-benar menjadi artefak mati,” tegas Tomi di hadapan para peserta seminar.
Tiga Langkah Strategis Penyelamatan Aksara Gholiks
Untuk menyelamatkan keberadaan Aksara Gholiks, Tomi merumuskan tiga pilar solusi konkret dan adaptif agar Aksara ini tidak punah oleh perubahan zaman:
- Digitalisasi dan Standardization Unicode: Mendorong pembuatan font standar berbasis Unicode agar Aksara Gholiks dapat diakses secara teknis di berbagai perangkat digital seperti ponsel pintar, komputer, dan platform media sosial.
- Integrasi Edukasi Kreatif: Mengubah metode pengajaran dari doktrinal yang kaku menjadi media interaktif melalui pembuatan komik, gim edukatif, serta konten visual di platform media sosial.
- Aktivasi Ruang Publik dan Komunitas: Menghidupkan penggunaan aksara dalam kehidupan sehari-hari melalui pembentukan klub baca-tulis lokal dan penerapannya pada papan nama ruang publik maupun fasilitas umum.
Tentang Aksara Gholiks

Aksara Gholiks
Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.
Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan. Suku ini dahulunya adalah suku terbesar di negeri Thang Raya. Mereka membangun tempat tinggal di wilayah bebatuan, pemukiman mereka menjulang tinggi dan terbuat dari batu. Ketika terjadinya letusan Gunung Niut, orang-orang Gholiks terpisah-pisah.
Aksara Gholiks sebagai salah satu peninggalan sistim tulisan orang-orang Kalimantan pada zaman dahulunya, memiliki bentuk dan gaya aksara yang tidak sama dengan aksara-aksara yang banyak bertebaran di wilayah nusantara.
Bahkan Aksara Gholiks tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Aksara Gholiks juga tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada Papan Turai milik warisan leluhur orang-orang Iban, dan Papan Turai ini kini tersimpan di Musium Sarawak, Malaysia. Aksara Gholiks tidak sama juga dengan bentuk dan gaya aksara Dunging milik orang-orang Iban dan aksara Gagarit milik orang-orang Kadazan Dusun.
Aksara Gholiks yang ditemukan pada pahatan batu di Batu Pahat dan Batu Sampai, meskipun berasal dari sistim tulisan yang sama dan berasal dari bahasa yang sama yaitu bahasa Sangen dan bahasa Sangiang, namun kedua pahatan tulisan tersebut memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat memiliki gaya penulisan yang lebih tua dari gaya penulisan Aksara Gholiks di Batu Sampai.
Gaya penulisan pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat cenderung tidak beraturan dan lebih banyak dalam bentuk simbol-simbol yang tidak membentuk sebuah kata atau sebuah kalimat. Masing-masing abjad aksara terdapat saling berdiri sendiri dan membentuk makna sendiri. Belum memiliki tanda baca dan terdapat juga abjad-abjad aksara yang terputus antara satu dengan lainnya.
Aksara Gholiks pada pahatan batu di Batu Sampai, merupakan gaya penulisan yang jauh lebih muda dari gaya penulisan di Batu Pahat. Pahatan abjad-abjad aksara Gholiks tersebut telah membentuk sebuah kata dan sebuah kalimat yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Telah terdapat tanda baca, yaitu sebuah abjad terdapat tanda sehingga membentuk bunyi sebuah kata, sehingga sedikit mempermudah dalam melacak maksud dari aksara-aksara yang terpahat pada Batu Sampai tersebut.
Terdapat juga tanda penekanan dan tanda berhenti pada sebuah kalimat. Bentuk tulisannya cenderung beraturan dan gaya penulisan pada aksara-aksaranya juga telah membentuk suatu jenis seni dalam penulisan.
Secara umum, Aksara Gholiks memiliki jumlah abjad yang cukup banyak karena banyaknya jenis-jenis bunyi pada bahasa Sangen atau bahasa Sangiang. Terdapat penekanan pada tenggorokan dan cenderung berbunyi sengau serta berbunyi desis sehingga cukup sulit dalam menirukannya jika tidak terbiasa atau bukan penutur aslinya.
Pada abjad-abjad tertentu yang membentuk kata-kata tertentu terdapat penyambungan antara abjad yang satu dengan abjad yang lainnya. Begitu juga tanda-tanda baca, terdapat penyambungan baik antara sama-sama tanda baca maupun penyambungan tanda baca pada abjad.
Dalam Aksara Gholiks, terdapat beberapa abjad yang berfungsi sebagai konsonan atau huruf mati sedangkan tanda baca, terdapat beberapa yang berfungsi sebagai vokal atau huruf hidup. Kemudian terdapat juga huruf konsonan nasal atau sengau.
Konsonan nasal atau sengau adalah fonem yang di realisasikan melalui bantuan rongga hidung, atau dengan kata lainnya adalah kualitas bunyi yang disampaikan melalui hidung atau yang secara khusus dibuat dengan menurunkan langit-langit lunak.
Pada beberapa bunyi dengan penutupan bagian mulut sehingga suara menegeluarkan bunyi baik secara seluruhnya atau sebagian melalui hidung, atau bunyi dasar yang diucapkan tersebut melalui kedua hidung dan mulut secara bersamaan.
Kemudian terdapat beberapa abjad yang berbunyi desis yaitu bunyi yang bersuara lebih lembut seperti suara meniup atau berbisik.
Metode penulisan Aksara Gholiks ini dari kiri ke kanan seperti metode penulisan aksara Latin.
Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias melontarkan pertanyaan terkait teknik membaca Aksara Gholiks hingga tantangan teknis dalam proses digitalisasinya.
Melalui seminar ini, kehadiran Tomi sebagai narasumber telah berhasil memperkenalkan keberadaan Aksara Gholiks dan membuka perspektif baru bahwa pelestarian aksara lokal bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan berjalan berdampingan dengannya.
Sesi seminar ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber. Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh para peserta seminar yang berkomitmen mendukung digitalisasi dan pembelajaran Aksara Gholiks secara berkelanjutan. (Red)
Baca juga: Sphinx Production Rilis Album Baru
